Free CursorsMyspace LayoutsMyspace Comments
} img{padding:0px;background:transparent;border:none;}

Minggu, 20 November 2011

Ekstrasi Zat Warna Alami Dari Daun Mangga


       I.            Tujuan Percobaan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengekstraksi zat warna alami dari daun mangga serta untuk mengetahui apakah ekstrak daun mangga dapat dimanfaatkan sebagai zat warna alami.
    II.            Tinjauan Pustaka
A.   Tinjauan Umum Mangga
          Tumbuhan mangga (Mangifera indica L.) menurut perkiraan para ahli berasal dari daerah sekitar Bombay dan daerah di sekitar kaki gunung Himalaya, kemudian menyebar keluar daerah, diantaranya Amerika Latin, benua Afrika,                       juga negara - negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Vietnam, Philipina, dan Indonesia.
Klasifikasi Mangga :
Kingdom       :    Plantae
Divis              :    Spermatopyhta
Kelas             :    Dicotyledonae
Ordo             :    Anancardiales
Famili            :    Anacardiaceae
Genus            :    Mangifera
Species          :    Mangifera indica Linn
Untuk kondisi alam di Indonesia, mangga dapat tumbuh baik pada tempat yang musim panasnya kuat, di dataran rendah dengan volume curah hujan rendah sampai sedang. Sebagai contoh : di pesisir utara pulau jawa, sebagaian besar daerah jawa timur, sampai pesisir sebelah timur antara Pasuruan, Situbondo dan Probolinggo, Kepulauan Sunda Kecil, daerah propinsi Riau, tenggara  pulau Sulawesi sampai pulau Buton dan sekitarnya.
Dilihat dari unsur botani dan habitatnya, tumbuhan mangga memiliki pohon yang tinggi mencapai 10 meter - 30 meter atau lebih dan umumnya dapat mencapai puluhan tahun. Batangnya tumbuh tegak, kokoh, berkayu dan berkulit tebal yang warnanya abu - abu kecoklatan, pecah - pecah serta mengandung damar. Percabangannya banyak  yang tumbuh ke segala arah hingga tampak rimbun. Akar bercabang - cabang, kokoh dan berkulit tebal warna kecoklatan. Daun tumbuh tunggal pada ranting, letaknya berselang - seling dan bertangkai panjang. Bentuk daun panjang lonjong dengan bagian ujung  meruncing. Permukaan daun sebelah atas berwarna hijau tua, sedangkan permukan sebelah bawah berwarna hijau muda. Tumbuhan mangga dapat tumbuh dan diproduksi di daerah tropik maupun sub tropik. Di daerah tropik Indonesia, mangga tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian maksimal 500 meter diatas permukan laut, meskipun dapat hidup sampai pada ketinggian lebih kurang 1300 meter, namun produksinya tidak begitu banyak dan kualitasnya pun tidak baik. Unsur iklim yang penting bagi tumbuhan mangga adalah curah hujan, suhu (temperatur) dan angin, suhu yang ideal adalah antara 270 C - 340 C dan tidak ada angin kencang atau panas, serta membutuhkan penyinaran antara 50 % - 80 %.
Kandungan kimia tumbuhan mangga antara lain : 2 - Octane, Alanine, Alpha-phellandrene, Alpha - pinene, Ambolic - acid, Cembonic - acid, Arginie, Ascorbic-acid, Beta - carotene beta pinene, Carotenoids, Fulfural, Gaba, Gallic - acid, Mangiferic - acid, Mangiferine, Mangiferol, Mangiferlic - acid, Myristic - acid, Neo-beta- carotene-b, Neo-beta-carotene-u, Neoxantophyll, Nerol, Neryl - acetate, Oloic -acid, Oxalic-acid, P-coumaric-acid, Palmitic-acid, Palmitoleic-acid, Pantothenic-acid, Peroxidase, Phenylalanine, Phytin, Proline, Quercetin, Xanthophll.
Kegunaan tumbuhan mangga antara lain untuk obat - obatan misalnya: gatal-gatal, rematik, gangguan darah, empedu, pencernaan, diare, desentri, wasir, sembelit, susah tidur. Selain itu untuk diolah menjadi makanan dan minuman seperti sale, selai, dodol, sari buah mangga.
Kegunaan lainnya adalah sebagai sumber zat warna dan yang digunakan sebagai zat warna pada tumbuhan mangga ini adalah pigmen mangiferine yang terdapat pada daun mangga. Mangiferine disini memiliki gugus kromofor yaitu       C = O, gugus auksokrom yaitu - OH yang berasal dari golongan anion dan senyawa organik tak jenuh hidrokarbon aromatik. Kandungan xanton jenis mangiferin pada mangga sebanyak 7 % - 15 %. Di dalam daun mangga mengandung kristal kuning (xanton).
Xanton adalah senyawa sejenis flavonoid yang telah digunakan sebagai zat warna selama beratus - ratus tahun. Xanton dari mangifera indica ini adalah glukosida - C mangiferin.              
Mangiferin yang terdapat pada daun batang mangga ini mempunyai         gugus - gugus penting dalam standar zat warna antara lain :
Zat organik tak jenuh      :    Hidrokarbon Aromatik
Gugus kromofor             :    = C =O (karbonil) dan = C = C (etenil)
Gugus auksokrom          :    OH (golongan anion)
Zat warna dari daun mangga larut dalam air, alkohol, aseton, asam, piridin, tri chlor as acetat (TCA), dan etil asetat sehingga tergolong water-soluble dyes.
Bagian yang akan digunakan sebagai zat warna adalah daun mangga, karena di dalam daun mangga terdapat pembuluh yang digunakan untuk membawa zat - zat makanan dari akar menuju ke daun.
B.   Zat Warna
Dalam percobaan ini, tinjauan umum zat warna adalah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk memberi warna ke suatu objek atau suatu kain. Suatu zat berwarna bila zat tersebut melakukan absorbsi selektif dari sinar yang masuk, dan meneruskan (memantulkan) sebagian dari sinar yang tidak di absorbsi, seperti yang nampak dalam indera penglihatan. Sinar yang terlihat oleh mata adalah yang panjang gelombangnya =  400-800Ǻ, Apabila zat tidak melakukan adsorbsi selektif, maka zat itu tak berwarna. 
Pada tahun 1876, Witt menyatakan bahwa molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik tak jenuh, kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat antara zat warna dengan serat. Zat organik tak jenuh yang biasa dijumpai dalam pembentukan molekul zat warna adalah senyawa aromatik. Golongan dari senyawa hidrokarbon aromatik yang bisa digunakan sebagai zat warna adalah senyawa organik yang diperoleh dari reaksi suatu amino aromatik primer yang disuspensi dari suatu larutan asam mineral dalam air, kemudian direaksikan dengan natriun nitrit, untuk menghasilkan suatu zat warna pada hidrokarbon aromatik dimana senyawa tersebut harus mengandung senyawa azo. Adapun gugus yang dapat digunakan untuk zat warna adalah gugus kromofor.
Gugus kromofor ini yang dapat menyebabkan molekul menjadi berwarna. Pada gugus kromofor yang biasanya digunakan dalam pewarnaan adalah jenis - jenis gugus fungsi yang didalamnya mengandung zat warna diantaranya ialah azo, nitroso, nitro, karbonil, tio, etenil, karbonitrogen., azometin, dan lain sebagainya.
Gugus Auksokrom adalah gugus yang mengaktifkan kerja kromofor dan memberikan daya ikat terhadap serat atau kain yang diwarnainya. Pada gugus auksokrom yang digunakan sebagai daya ikat terhadap serat atau kain digolongkan menjadi dua yaitu :
(1)    Golongan kation yaitu suatu gugus fungsi yang didalamnya bisa mengandung gugus amino primer dan asam amino.
Misalnya adalah :- NH2, - NHCH, - NCH3, - NCH­3Cl.
(2)    Sedangkan untuk golongan anion yaitu suatu gugus fungsi yang didalamnya mengandung gugus alkana dan fenol, tetapi ada juga yang mengandung asam, misalnya : - SO3H,  - OH, - COOH.
Gugus auksokrom pada zat warna alam, kecuali indigo, pada umumnya golongan anion, yang memiliki sifat mudah larut dalam air, sehingga dapat diduga ketahanan luntur zat warnanya rendah sebab ikatan yang terjadi ialah ikatan hidrogen. Untuk memperkuat ikatan tersebut perlu dilakukan proses iring (after treatment atau fiksasi).
Dalam zat warna terdapat suatu golongan diantaranya zat warna pada alam adalah zat warna yang di peroleh dari alam atau tumbuh - tumbuhan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan cara ekstraksi menurut aplikasinya atau pemakainnya pada bahan tekstil, zat warna alam dapat digolongkan menjadi 4 golongan yaitu : Zat warna direk, zat warna asam - basa, zat warna mordan, dan zat warna bejana.
Zat warna direk adalah suatu zat warna yang dapat langsung mewarnai bahan tekstil (dari serat alam) secara langsung. Ikatan antara serat alam (bahan tekstil), dengan zat warna yang berdasarkan ikatan hidrogen. Setelah proses pencelupan selesai perlu diperlukan proses fiksasi agar daya tahan luntur warna kain yang dicelupkan dengan zat warna ini baik. Contoh golongan ini ialah curcumin.
Zat warna asam - basa karena pada proses pencelupannya memerlukan suasana asam - basa. Zat warna pada jenis ini memiliki gugus kombinasi asam dan basa, tetapi diterapkan pada pewarnaan serat sutra atau wol, tetapi tidak memberikan warna yang permanen pada katon. Contoh golongan ini adalah flavanoid pigmen.
Zat warna mordan adalah zat yang dibuat tidak larut pada tekstil dengan mengkomplekskan atau penyepitan (chelation) dengan suatu ion logam yang disebut mordan. Zat pewarna jenis ini tidak mampu mewarnai kain (tenunan), kecuali dengan bantuan mordan. Mordan yang digunakan biasanya mengandung hidroksida atau garam basa yang berasal dari Al, Cr, Fe, Cu, Co. Mordan ini mampu membentuk suatu senyawa yang dapat larut bersama pewarna dalam kain, sehingga dapat mewarnai dengan baik. Contoh Zat warna ini adalah alizarin.
Zat warna bejana yaitu zat warna yang dapat mewarnai serat melalui proses reduksi - oksidasi (redoks) dikenal sebagai pewarna yang paling tua di dunia, dengan ketahanan yang paling unggul dibandingkan ketiga jenis zat warna alam lainnya. Zat warna ini memiliki sifat tidak larut dalam air, tetapi dengan reduksi-oksidasi akan dihasilkan senyawa yang larut dalam air. Tenunan (kain) kemudian di celup, setelah beberapa lama kain tersebut di ambil, dan dioksidasikan dengan udara, sampai timbul warna yang melekat dengan baik pada kain tersebut. Contoh zat warna jenis ini adalah indigo.
C.   Ekstraksi
Untuk mengeluarkan suatu zat warna diperlukan suatu metode yaitu metode ekstraksi, metode ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan yang berasal dari suatu padatan atau cairan dengan menggunakan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas dasar kelarutan yang berbeda dari komponen - komponen yang dipisahkan terhadap dua pelarut yang tidak saling bercampur.
Berdasarkan bentuknya ekstraksi dapat dibedakan  menjadi dua macam, yaitu :
(1)  Ekstraksi padat - cair, yaitu substansi yang di ekstraksi terdapat dalam campuran yang berbentuk padat.
(2) Ektraksi cair - cair, yaitu substansi yang di ekstraksi yang terdapat dalam  campuran berbentuk cairan.
Adapun cara ekstraksi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
(1)      Ekstraksi tradisional atau sederhana dapat dilakukan dengan cara perebusan. Cara perebusan merupakan yang paling mudah dengan alat - alat yang sederhana pula. Adapun prinsip pengolahannya yaitu, bahan yang akan di ekstra, di rebus dalam pelarut air dengan perbandingan tertentu, bahan di rebus sampai terjadi larutan ekstrak, lalu diangkat dan di dinginkan lalu di saring, larutan  ekstrak siap digunakan. Cara tradisional biasanya digunakan oleh seorang pengerajin batik, karena pada umumnya pewarnaan batik menggunakan zat warna alam. Namun karena adanya kemajuan teknologi sekarang ini seorang pengusaha batik banyak yang mulai meninggalkan cara lamanya dan  beralih ke cara yang moderen yaitu dengan cara menggunakan metode ekstraksi soxhlet, karena mereka mengganggap lebih praktis dan akurat. Namun tidak semua pengusaha batik menggunakan cara moderen tersebut karena sampai saat ini masih ada yang mwnggunakan cara tradisional dalam pewarnaan batik terutama dalam skala kecil, atau home industri.
(2)                   Ekstraksi cara maserasi merupakan proses perendaman sampel padat dalam suatu pelarut pada temperatur kamar. Metode ini sering disertai dengan tindakan mekanik seperti pengocokan. Maserasi tersebut lazim digunakan untuk sampel berupa padatan. Sampel harus terendam dalam pelarut.
(3)                   Refluks ialah perendaman sampel padat dalam suatu pelarut pada temperatur titik didih pelarut.
(4)                   Soxhlet, merupakan ekstraksi padat - cair yang banyak digunakan dalam dunia usaha untuk mengisolasi substansi berkhasiat di alam, di mana ekstraksi      padat - cair dalam laboratorium akan lebih mudah dengan mengunakan alat ekstraksi yang dikenal dengan ekstraktor soxhlet. Langkah - langkah ekstraksi padat - cair, yaitu pencampuran pelarut dan badan - bahan yang diekstrak, lalu dipisahkan dengan beberapa fase.
Proses ekstraksi padatan umunnya diterapkan untuk memindahkan atau memisahkan produk alam dari dahan keringnya yang asli, dari tanaman, jamur, dan lain sebagainya. Ekstraksi dapat dilakukan berulang - ulang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan pelarut yang cocok misalnya : air, asam organik dan anorganik, hidrokarbon jenuh, toluena, karbon disulfida, eter, aseton, hidrokarbon yang mengandung klor dan isopropanol dan oktanol. Dan bisa juga berawal mulai dari petroleum ringan (titik didih 40˚C) untuk memisahkan komponen polar dari suatu campuran kemudian melangkah kepelarut yang lebih polar seperti asam amino, karbohidrat dan lain sebagainya. Adapun beberapa keuntungan menggunakan ekstraksi soxhlet antara lain :
·       Dapat digunakan dalam skala besar.
·       Keamanan kerja dengan alat ini lebih tinggi.
·       Lebuh effisien tenaga karena tinggal menunggu hasil dari proses sirkulasi.
·      Pelarut dapat di peroleh kembali setelah proses ekstraksi selesai, sehingga dapat digunakan kembali.
·      Kemurnian tinggi karena susunan alat menyebabkan proses berjalan effektif dan beberapa pengotor.
Zat warna dari daun mangga diperoleh dengan cara ekstraksi mengunakan ekstraksi soxhlet. Pemisahan sari - sari daun tumbuhan mangga pada alat ini yaitu dengan cara memasukkan serbuk daun tumbuhan mangga (daun mangga diblender kering terlebih dahulu) ke dalam soxhlet yang telah dilapisi dengan kertas saring dan dasar di beri wol glass agar tumbuhan mangga tidak terbawa pelarut.

D.  Pelarut
Pelarut merupakan faktor yang menentukan keberhasilan dari suatu ekstraksi.  Adapun syarat - syarat yang harus dipenuhi untuk pelarut tersebut adalah tidak mengadakan reaksi kimia dengan zat warna yang diekstrak, memiliki daya melarutkan yang besar, setelah proses ekstraksi, pelarut dapat dipisahkan dengan mudah.
Bahan yang sudah diekstrak maka pelarut dapat dengan mudah dipisahkan umumnya dengan cara mengunakan destilasi biasa. Disamping syarat - syarat tersebut diatas, pemilihan pelarut yang harus diperhatikan adalah harganya, mudah atau tidaknya cara pengunaan, dan mudah tidaknya terbakar. Kepolaran pelarut dapat ditunjukkan dari harga konstanta dielektrikumnya, maka semakin besar harga dari konstanta dielektrikum maka akan bersifat makin polar.
E.   Metode Pendekatan
Zat warna dari daun mangga mengandung banyak senyawa. Senyawa-senyawa tersebut ada yang larut dalam air, maupun pelarut organik. Pada penelitian ini digunakan pelarut aseton. Zat warna yang terekstrak diharapkan tidak luntur dengan pencucian. Untuk menambah daya ikat zat warna dengan kain katun ditambahkan zat mordan, yaitu tawas. Dengan penambahan zat mordan, diharapkan terbentuk kompleks antara logam dari zat mordan dengan zat warna dan kain. Untuk mengetahui ketahanan zat warna dalam kain dilakukan pencucian kain yang telah diwarnai dengan deterjen.









 III.            Alat dan Bahan
A.    Alat
       Alat - alat yang digunakan pada percobaan ini adalah
·      Peralatan gelas yang meliputi: 2 buah gelas kimia berukuran 250 mL, 3 buah gelas kimia berukuran 100 mL, 1 buah spatula, 3 buah kaca arloji, 1 buah corong, 2 buah pipet tetes, 1 buah thermometer, seperangkat alat soxhlet lengkap.
·      Peralatan pendukung meliputi: 1 buah neraca analitik, 1 buah alat blender dan 1 buah kain serbet.

B.   Bahan
Bahan - bahan yang diperlukan pada percobaan ini adalah 200 mL aseton teknis, 10 mL larutan NaOH 2 M, 10 mL larutan HCl 2 M, 3 helai kain katun berwarna putih berukuran 4 × 4 cm, daun mangga seberat 28,35 gram serta kertas aluminium foil, kertas saring, aquades dan es batu secukupnya.










  IV.            Prosedur Kerja
            Tujuan utama dari  percobaan ini adalah untuk mengestrak zat warna dari daun mangga serta menguji potensinya sebagai pewarna tekstil. Percobaan ini terdiri dari 3 tahap utama, yaitu :
A.    Ekstraksi Zat Warna
(1)   Menghaluskan daun mangga dengan menggunakan blender.
              (2)   Menimbang daun mangga yang sudah diblender tadi menggunakan neraca analitik.
              (3)   Memasukkan serbuk daun mangga ke dalam kertas saring yang telah dibentuk seperti kantong.
(4)   Memasukkan serbuk daun mangga yang sudah terbungkus kertas saring tadi ke dalam alat soxhlet.
(5)   Memasukkan sebanyak 200 mL pelarut aseton ke dalam labu dasar bulat.
              (6)   Menambahkan larutan asam klorida (HCl) 2 M sebanyak 10 mL ke dalam labu dasar bulat yang sudah berisi 200 mL pelarut aseton tadi. Penambahan HCl 2 M ini dilakukan untuk memecah dinding sel dari daun mangga.
              (7)   Memasang alat soxhlet pada labu dasar bulat berisi pelarut yang telah diasamkan dengan larutan HCl 2 M kemudian menyambungkannya dengan pendingin.
              (8)   Setelah alat soxhlet dirangkai menjadi satu, proses ekstraksipun dimulai. Ekstraksi dilakukan sampai zat pelarut tidak mengandung zat warna.
       B.    Proses Pemekatan Zat Warna Hasil Ekstraksi
              (1)   Zat warna hasil ekstraksi dipindahkan ke dalam gelas kimia.
              (2)   Memanaskan zat warna hasil ekstraksi yang berada dalam gelas kimia tadi di atas pemanas soxhlet sampai volumenya menjadi seminimal mungkin (pelarut diharapkan telah habis) sehingga didapat zat warna pekat.
              (3)   Menambahkan larutan NaOH 2 M sebanyak 10 mL ke dalam gelas kimia yang berisi zat warna pekat tadi untuk menetralkan kelebihan asam.
              (4)   Zat warna siap untuk digunakan.
C.    Aplikasi Zat Warna Hasil Sintesis

a.         Proses Mordan
                     (1)   Memotong kain katun dengan ukuran 4 × 4 cm sebanyak 3 helai.
                     (2)   Memasukkan 200 mL aquadest ke dalam 3 gelas kimia berukuran 250 mL kemudian memberi label.
                     (3)   Menimbang serbuk tawas masing - masing sebanyak 2 gram dan 9 gram.
                     (4)   Menambahkan serbuk tawas ke dalam 2 gelas kimia yang masing - masing sudah berisi 200 mL aquadest. Untuk gelas kimia 1, ditambahkan serbuk tawas sebanyak 2 gram, sedangkan  untuk gelas kimia 2 ditambahkan serbuk tawas sebanyak 9 gram kemudian mengaduk keduanya dengan spatula hingga didapat larutan tawas yang homogen. Untuk gelas kimia yang ke 3 tidak ditambahkan tawas (hanya berisi aquadest 200 mL).
                     (5)   Merendam kain katun berukuran  4 × 4 cm yang sudah dibuat tadi ke dalam masing - masing 3 gelas kimia yang sudah berisi larutan tawas 2 gram, 9 gram serta gelas kimia ke 3 yang hanya berisi aquadest dengan waktu perendaman kain masing - masing:
                            Gelas kimia I      :    1 jam.
                            Gelas kimia II     :    2 jam.
                            Gelas kimia III    :    0 jam.
                     (6)   Mengeringkan ke tiga helai kain katun setelah proses perendaman selesai.
b.    Proses Pencelupan

(1)   Membagi zat warna hasil ekstraksi dengan alat soxhlet ke dalam 3 gelas kimia masing - masing berukuran 100 mL.
(2)   Mencelupkan ketiga kain katun yang sudah mengalami proses perendaman dalam larutan tawas dengan konsentrasi berbeda dan proses pengeringan tersebut ke dalam zat warna pada ketiga gelas kimia kurang lebih selama 1 jam.
(3)   Agar zat warna dapat terserap lebih banyak ke dalam serat kain, diperlukan suhu rendah. Oleh karena itu, perlakuan selanjutnya yaitu merendam ketiga gelas kimia yang berisi rendaman zat warna dan kain katun tadi ke dalam bak yg berisi air dingin ( ditambahkan es batu ) sehingga diperoleh suhu yang rendah. Proses ini dilakukan selama 1 jam.
(4)   Setelah 1 jam, mengambil kain katun hasil perendaman tadi kemudian mencucinya menggunakan air yang telah dicampur dengan detergen untuk menguji kekuatan melekat atau tidaknya zat warna tersebut pada kain katun.
     V.                                             Data Hasil Pengamatan
1.    Ekstraksi Zat Warna                                         
No
Perlakuan
Hasil Pengamatan

1.


2.



3.



4.



5.



6.






7.





8.

Menghaluskan daun mangga dengan menggunakan blender.

Menimbang daun mangga yang sudah diblender tadi menggunakan neraca analitik.

Memasukkan serbuk daun mangga ke dalam kertas saring yang telah dibentuk seperti kantong.

Memasukkan serbuk daun mangga yang sudah terbungkus kertas saring tadi ke dalam alat soxhlet.

Memasukkan sebanyak 200 mL pelarut aseton ke dalam labu dasar bulat.

Menambahkan larutan asam klorida (HCl) 2 M ke dalam labu dasar bulat yang sudah berisi 200 mL pelarut aseton tadi. Penambahan HCl 2 M ini dilakukan untuk memecah dinding sel dari daun mangga.

Memasang alat soxhlet pada labu dasar bulat berisi pelarut yang telah diasamkan dengan larutan HCl 2 M kemudian menyambungkannya dengan pendingin.

Setelah alat soxhlet dirangkai menjadi satu, proses ekstraksipun dimulai. Ekstraksi dilakukan sampai zat pelarut tidak mengandung zat warna.

Daun mangga yang diblender berwarna hijau.

Massa daun mangga  = 28,35 gram.




-



-


Pelarut aseton tidak berwarna (bening).


Larutan asam klorida (HCl) 2 M tidak berwarna (bening).






-




Proses ekstraksi dilakukan selama 2 jam.



2.         Proses Pemekatan Zat Warna Hasil Ekstraksi

No
Perlakuan
Hasil Pengamatan

1.


2.







3.

Memindahkan zat warna hasil ekstraksi ke dalam gelas kimia.

Memanaskan zat warna hasil ekstraksi yang berada dalam gelas kimia tadi di atas pemanas soxhlet sampai volumenya menjadi seminimal mungkin (pelarut diharapkan telah habis) sehingga didapat zat warna pekat.

Menambahkan larutan NaOH 2 M sebanyak 10 mL ke dalam gelas kimia yang berisi zat warna pekat tadi untuk menetralkan kelebihan asam.

Zat warna hasil ekstraksi berwarna kuning bening sebanyak 200 mL.

Diperoleh zat warna pekat berwarna hijau kecoklatan (coklat pekat) dan zat warna pekat yang diperoleh sebanyak 35 mL.




Setelah ditambahkan larutan NaOH   2 M sebanyak 10 mL, larutan zat warna pekat tidak mengalami perubahan.


3.                                                                 Aplikasi Zat Warna Hasil Sintesis
a.                                                        Proses Mordan
No
Perlakuan
Hasil Pengamatan

1.


2.


3.



4.















5.












6.



Memotong kain katun dengan ukuran 4 × 4 cm sebanyak 3 helai.

Memasukkan 200 mL aquadest  ke dalam 3 gelas kimia.

Menimbang serbuk tawas masing - masing sebanyak 2 gram dan     9 gram.

Menambahkan serbuk tawas       ke dalam 2 gelas kimia         masing - masing sudah berisi    200 mL aquadest. Untuk gelas kimia 1, ditambahkan serbuk tawas sebanyak 2 gram, sedangkan  untuk gelas kimia 2 ditambahkan serbuk tawas sebanyak 9 gram kemudian mengaduknya keduanya dengan spatula hingga didapat larutan tawas yang homogen. Untuk gelas kimia yang ke 3 tidak ditambahkan tawas (hanya berisi aquadest 200 mL).

Merendam kain katun berukuran  4 × 4 cm yang sudah dibuat tadi ke dalam masing - masing 3 gelas kimia yang sudah berisi larutan tawas 2 gram, 9 gram serta gelas kimia ke 3 yang hanya berisi aquadest dengan waktu perendaman kain                 masing - masing:
Gelas kimia I : 1 jam.
Gelas kimia II : 2 jam.
Gelas kimia III : 0 jam.

Mengeringkan ke tiga helai kain katun setelah proses perendaman selesai.

Kain katun yang digunakan berwarna putih.

Aquadest tidak berwarna (bening).


Serbuk tawas berwarna putih.



Pada saat serbuk tawas ditambahkan ke dalam air aquadest di dalam gelas kimia dan diaduk, serbuk tawas yang ditambahkan tadi lama kelamaan larut dalam air aquadest kemudian menghilang (didapat larutan tawas yang homogen).














-








-

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host